Tapi mari kita bedah ini dengan kepala dingin. Ada satu sisi yang sering luput kita bicarakan: Bahaya laten ketika guru kehilangan "Jarak Profesional" dengan siswa.
Banyak guru zaman now, terutama guru muda, terjebak dalam ambisi ingin menjadi "Guru Favorit" atau "Guru Asik". Kita berusaha masuk ke dunia mereka, tertawa bersama, bahkan memosisikan diri seperti teman sebaya alias bestie.
Niatnya baik: membangun kedekatan emosional. Tapi, kasus Jambi dan banyak kasus lainnya mengajarkan kita bahwa kedekatan tanpa batasan adalah bom waktu.
Mengapa guru TIDAK BOLEH terlalu dekat (dalam artian friendship) dengan siswa?
Saat siswa sudah menganggap gurunya "teman", maka "tembok" penghormatan itu runtuh. Ingat rumus ini: Siswa tidak akan segan pada temannya. Ketika Anda mencoba menegur mereka saat mereka salah, mereka tidak akan mendengarnya sebagai teguran otoritas, melainkan sebagai pengkhianatan teman. "Ah, Bapak kok baperan? Biasanya juga bercanda." — Kalimat ini adalah tanda awal wibawa Anda sudah hilang.
Dalam adab, ada hierarki: Yang Muda menghormati Yang Tua, Murid menghormati Guru. Mencoba mensejajarkan diri dengan siswa atas nama "demokrasi kelas" sering kali disalahartikan oleh remaja yang emosinya belum stabil. Mereka jadi merasa setara, bahkan merasa berhak melawan secara fisik jika egonya terusik.
Tugas kita membimbing, bukan sekadar bonding. Kita harus menjadi figur yang mereka hormati dan takuti (dalam artian positif/segan), bukan figur yang bisa mereka tepuk pundaknya sembarangan. Siswa butuh sosok pemimpin di kelas, bukan tambahan teman bermain. Teman main mereka sudah banyak di kantin, mereka butuh orang dewasa yang bisa berkata "Tidak" dan "Jangan" dengan tegas.
Menjadi guru yang hangat (warm) itu wajib. Tapi menjadi guru yang permissive (serba membolehkan demi disukai) itu fatal. Pertahankan "Ruang Profesional". Sayangi mereka seperti anak didik, tapi jangan biarkan mereka masuk ke ranah pribadi terlalu dalam hingga mereka lupa bahwa Anda adalah orang tua di sekolah.
Jadilah Guru yang Ramah, tapi Tak Terjamah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar